 |
| Hulu Sungai Citarum - Situ Cisanti |
WEWENANG :
Menyelenggarakan pengusahaan atas penggunaan air, lahan dan jasa lainnya, Operasi dan Pemeliharaan (OP) Sumber Daya Air dan monitoring kualitas air, penyediaan air baku, membina hubungan dengan Pemerintah Daerah, swasta dan komunitas masyarakat lainnya serta pengelolaan waduk Ir. H. Djuanda
TUGAS & TANGGUNG JAWAB :
1. Menyusun RJP dan RKAP
2. Merencanakan dan melaksanakan konstruksi, OP prasarana SDA
3. Menerbitkan rekomendasi lapangan pelaksanaan usaha
4. Melaksanakan konservasi SDA dan pengendalian daya rusak air
5. Melaksanakan OP bendungan Ir. H. Djuanda serta prasarana lainnya
6. Melaksanakan koordinasi dengan Pemda, swasta dan komunitas masyarakat lainnya
dalam bidang OP sungai & perlindungan SDA
7. Melaksanakan pengadaan barang dan jasa
8. Melaksanakan pengusahaan jasa air, lahan, dan usaha lainnya
9. Menyiapkan rekomendasi lapangan pelaksanaan usaha
10. Melaksanakan pemantauan lingkungan
11. Menyusun usulan konstruksi prasarana SDA
12. Menyusun laporan dan melaksanakan tugas di bidang ketatausahaan
STRATEGI :
1. Sebagian besar tanah pemerintah dan sebagian tanah milik masyarakat. Umumnya kawasan lindung, fungsi resapan makin lama makin menurun. Musim hujan run-off sangat besar sehingga menimbulkan banjir, sebaliknya musim kemarau base-flow sangat kecil menimbulkan kekeringan. Disamping karena fenomena alam, juga karena ulah manusia, al.: masyarakat memanfaatkan kawasan lindung sebagai lahan budidaya dan illegal logging akibatnya terjadi erosi yang berlebihan dan kestabilan lereng terganggu.
2. Ketersediaan air permukaan tidak dapat mengimbangi laju pertumbuhan kebutuhan Akibatnya terjadi pertentangan kepentingan antara pemanfaat sosial dengan pemanfaat komersial (Pertanian dan Industri). Pemanfaat berani membayar air dengan harga tinggi untuk memenuhi kebutuhan usahanya, nilai ekonomi air menjadi semakin meningkat. Para pengusaha industri lebih cepat mendapatkan air dari sumber air tanah dan pemanfaatan air tanah yang berlebihan sulit untuk dibendung. Permukaan air tanah menurun cepat yang tidak dapat diimbangi oleh proses perbaikan kembali secara alami.
3. Pembangunan yang tidak taat asas, pelaksanaan kurang memperdulikan rencana tata ruang berakibat akan menurunkan daya dukung lingkungan terutama di "Cekungan Bandung" yang merupakan bagian hulu Sungai Citarum. Salah satu dampak yang sangat mencemaskan adalah menurunnya kualitas air dan sumber air. Berdasarkan data pemantauan BPLH Jabar tahun 2005, sumber pencemaran industri dan domestik masih dominan berpotensi menurunkan kualitas air Sungai Citarum
4. Banjir di bagian hulu terjadi hampir setiap tahun mengakibatkan kerugian besar terutama di Daerah Dayeuhkolot, Faktor - faktor penyebab genangan, antara lain:
• Kapasitas palung sungai Citarum yang mengecil
• Perubahan tata guna lahan yang menyebabkan terjadinya erosi/sedimentasi
• Pertambahan penduduk
• Pengurangan kapasitas pengaliran akibat sampah dan sedimentasi
• Drainasi lokal yang kurang mencukupi
• Adanya fenomena Land Subsidence, yang mengambil air tanah berlebihan
| Attachment : |
Wilayah Kerja Divisi V |
| |
|
Divisi-IV.pdf |
|